Bakso Pak Teguh, Prawirotaman, Jl. Paris Jogja

Setting: Pasar Prawirotaman, Jalan Parangtritis

Waktu: 19.05

Petang begini, tanggung banget kalau mau maem nasi.  Yo wis, bakso aja yuk…

Andalan tanteku ada di depan Pasar Prawirotaman: Bakso dan Ronde Pak Teguh.

Buat aku, bakso Pak Teguh ni sebenernya terlalu sopan dan kurang ‘nyegrak’ kaldunya. Tapi apart from kualitas bakso dan tetek bengeknya, ada hal terbaik yang selalu aku suka kalo mampir ke warung tenda ini: keramahan Pak dan Bu Teguh! Sopaaaan banget. Dan boso kromo inggilnya tu lho….haduuhh…selalu meliuk disertai dengan “injiiihhhh’, senyum dan ba dan sedikit membungkuk.

Oke. Balik ke baksonya. Semangkok bakso kebul kebul  terhidang di meja. Kuahnya bening dengan aroma daging yang lebih kuat ketimbang bawang dan seledri.  Bakso lengkap yang aku pesan berisi 2 butir bakso halus, 1 butir bakso urat, irisan tahu goreng, sedikit tetelan dan mi kuning dengan bihun. Bakso uratnya lebih gede dengan kenyil-kenyil urat yang ngegemesin untuk digigit-gigit. Hihihi..namanya juga urat.

Di meja sudah tersedia pasukan pelengkap;  sambal,  kecap, cuka, garam, bubuk merica dan air bawang putih. Aha..bubuk merica dan air bawang putih jarang tersedia di warung lain.

Kaldu beningnya cukup oke lah, Cuma perlu sediki garam lagi. Sambal dua sendok dong. Air bawang tak boleh lupa dimanfaatkan. Tapi merica…hmm…sebaiknya jangan! Menaburkan merica pada kuah bakso hanya akan membuatnya berasa aneh karena bubuk merica mentah dan kaldu bakso jelas ngga nge-blend dengan baik. Juga aroma langu merica akan terasa banget.

Bakso ala Jogja tidak didampingi es the, melainkan wedang ronde! Unik deh. Sampai sekarang pun aku belum bisa ‘menerima kenyataan’ ini…karena bakso-ku seharusnya selalu diiringi es the ato es jeruk.  Nah, Pak Teguh lantas mengambil jalan damai. Sebagai pemadam kebakaran, kita boleh pesan es ronde atau es campur. Tapi am not very fond of those kinda es-es-an. Jadiii…mending ngga usah pesan minum wae. Weleh..

Adalagi yang khas Jogja. Irisan bakso goreng! Bukan bakso asli sih, melainkan semacam keripik yang dibuat dari adonan  tepung, yang digoreng kering *dan keras* berbentuk irisan-irisan tebal. Renyah. Rasa asin dengan sedikit rasa bawang.  Kadang ada yang enak, lebih sering pula yang asal keras ajah. Hiyy..klotak! Satu lagi khasnya bakso Jogja*versi gerobak* adalah dicemplunginnya daun sawi hijau. Pertama kali datang ke Jogja over 20 years ago, sumpah, sebel banget dengan bakso gerobak ala Jogja. Cemplang, pakai sawi yang langu dan kadang pahit, pakai bakso goreng yang keras, dan mi kuning yang bau gamping. Huhuhu….

Tapi sekarang sudah banyak yang ber-inovasi tuh. Pak Teguh ni, yang asli Jogja, cuma menyuguhkan bakso tanpa sayur. Hanya dengan mie, tahu, dan kadang tetelan. Lumayan. Murah juga.  Bakso 2 dan ronde panas 1. Total 15ribu. Aku mengucapkan terimakasih dan dibalas Bu Teguh, “Injiihh..sembah nuwun.”

About me: Delay yang bikin mati gayee….

Ribut-ribut Lion Air yang dipanggi DPR gara-gara rajin banget menelantarkan penumpang membuat trauma-ku naik pesawat jadi kambuh. Huhuhu…bukan trauma kecelakaan sih, tapi karena luka batin *haiyah* disiksa pesawat telat, dan macet, di Jakarta tercintaa. Salah! Jakarta, kampung halaman tanah tumpah darah suami tercintaaa…..

Gini ceritanya.

Tiga bulan sebelum terbang  aku sudah booked tiket AA Jogja Jakarta pp, mumpung ada promo one way 75K dan kembali 120K. Not bad at all; meski setelah ditambah  pajak dan biaya ini itu, total yang harus aku keluarkan berjumlah hampir 300K juga. Sama dengan jumlah yang sama kalo aku naik Rosalia Indah. Hihhihi..hemaat. Tak apalah. Demi suami ganteng yang berulang tahun tanggal 15 Mei.

Dua minggu sebelum terbang, email dari AA masuk ke inbox-ku. Karena ada ini dan itu, flight  AA Jogja – Jakarta 13 Mei 2011 jam 14.30 dipindahkan menjadi jam  15.30. Bagoesss! Artinya, aku punya waktu lebih panjang 1 jam untuk beberes. Mas pun ngga perlu buru2 ngabur dari kantor untuk jemput isteri.

Jumat siang jam 1 lewat dikit aku udah nyampai rumah, usai mengajar 3 kelas in a row-mulai jam 7 sampai jam 12 jam. Beberes bawaan sedikit lagi, trus mandi. Hm, satu handbag, satu tas isi beberapa lembar baju dan panci kecil yang aku penuhi dengan sekilo serundeng dan abon. Juga setengah kilo cheese karena aku pengin bikin pasta untuk Mas. Masih ada lagi gelendotan, satu lukisan topeng  ukuran 50-60cm. Hadooh..ribet. Mudah2an ga masalah denga airasia karena aku beli tiket tanpa bagasi. Sekali lagi aku cek di timbangan, total ngga lebih dari 7 kilo. Sip.

Setengah duaan aku mulai keluar, bawa motor beserta gelendotannya ke Janti. Titip motor disana, sambung dengan ojek, 14.30 pas aku check in. Bagoesss.

Di ruang tunggu baru keinget, aku belum makan dari kemaren sore! Wadoh. Ga papa deh, tahan dulu. Bentar lagi boarding, trus nyampe Jakarta, ketemu Mass, makan! Pasti sedap.Tapi aku boleh berencana, AA yang menentukan.  Setengah empat sore diumumkan, pesawat  delay. Ga lama. Cuma setengah jam . Katanya mo berangkat jam 4. Hmm..Baiklah.

Sampai jam 4 tet, loh kok blom boarding juga? Deg-degan nih. Langit mulai mendung. Bener aja, setengah 5 hujan deraaaasss…..runway banjir keknya.  Lemes deeehhh….pasti tunda lagi. Yups. Betul. Ada pengumuman, pesawat yang udah datang dari Jakarta ngga bisa landing karena cuaca, dan kepaksa kembali Jakarta.  Penerbangan ditunda sampai waktu yang akan diumumkan kemudian. Huaaa…..

Mau keluar dari ruang tunggu, males banget karena ntar meski scan bolak balik. Ngintip lounge, penuh. Lagian, CC ku bukan Prioritas. Hiks. Jam setengah 6, AA bagiin donat coklat dan  aqua cup. Aku yang udah beli Greentea, ngga tertarik banget. Tapi lapeer. Hiks. Kepaksa donat coklat yang aku ngga suka disantap juga.

Alhasil, pesawat datang dan kita terbang jam 19.30 malem. Jamuraaannn deh.

Tapi penderitaan blom berakhir.

Jam 20.30 AA mendarat di T.3 CGK. Begitu keluar dari gate, ada kabar bahwa bis Damri yang aku tunggu kena macet, jadi penumpang harus pindah ke T.1 dengan shuttle bus. Doesn’t sound good, pikirku. Apa boleh buat.

Di T.1 kubeli tiket Damri Soetta – Lebak Bulus seharga 20 ribu. 1 jam waktu tempuh.

“Paling telat 22.30 juga dah nyampai Lebakbulus, Hun. Tunggu Bunda ya.”

SMS sent. To hubby yang udah nunggu di masjid terminal Lebakbulus dari jam 21 setelah seharian bertugas ke Bogor.

Tapi kenapa eh kenapa, Damri arah Lebak Bulus ga nongol ya, padahal jurusan lain semuanya lancar? Bekasi, Cikarang, Rawamangun, Priok…semua datang dan pergi. Lebakbulus mana yaaa?? Jam bergeser dari pukul 21.15, 21.30, 22.00….huhuhu…

“Ayah pulang dulu deh. Nanti Bunda pake taxi aja dari Lebak Bulus,” Kutelpon Mas.

“Tanggung Bun. Ayah tiduran aja, banyak teman nunggu.”

22.10, 22.15…duh..ngga tahan membiarkan suami menunggu kelamaan. Dan aku juga udah lapar setengah mati. Ajak sebelah untuk patungan naik taxi, dan beliaunya ngga tertarik. Yah..

22.20. ngga tahan lagiii..Nyusup ke Blue bird yang lewat. Pintu digebrak petugas keamanan.

“Masuk aja Mbak. Cepat,” seseorang berteriak. Haduuuhhh…kuucapkan maaf pada driver.

Taxi melaju kencang sepanjang tol. Masuk Slipi, hufffttt..mulai merayap. Dan tersendat di Pondok Indah dan sekitarnya. Hiks..hikks…

Tanggal sudah berganti ke 14 Mei ketika kami akhirnya nyampai Permata Mansion, Serua.

13 Mei 2011 jam 14.30 berangkat dari rumah Jogja.

14 Mei 2011 jam 00.30 sampai di rumah Serua, Tangsel.

Terkapar didepan TV dengan dua bungkus nasi goreng.

10 jam. Gimana ngga traumaaa?

Me and Mie, a brief story

Welcome to Mbak Endang’s Blog My mother once thought that me, her second daughter, would love Wedang Jahe. When she carried me some forty years ago she often had long sleepless nights that would not end until she took some wedang jahe to sooth her and little me inside. Thanks to Wedang Jahe; and as little me grew up, my mother found that me was so fond of…..NOODLE… Me Love Mie!

 

The battle of Bakmi Jowo: Mbah Nen vs Bu Kusni, Jalan Menukan Karangkajen

Bu Kusni sepertinya memang pemain lama di dunia perbakmi-jowonan Jogja, meski aku belum pernah bertanya kapan tonggak bisnisnya mulai ditancapkan di Karangkajen. Yang jelas, lebih dari 15 tahun. Beberapa waktu lalu ketika aku mampir untuk memesan satu bakmi godog, aku menemukan banner baru terpasang didepan gerobaknya. Dua tiga ekor ayam tergantung, anda pasti tidak akan bingung… *ngutip Jarjit Singh di Ipin Upin ah*. Hehehehe…Kalo tidak memasang banner, mungkin pelanggan baru akan ‘terkecoh’ dengan gerobak bakmi Jowo yang baru beberapa bulan ini buka lapak di seberangnya.

Si pemain baru ini memasarkan produknya dengan agresif: memakai lampu ambulan yang bersinar merah dan berputar! Tulisan mencolok “Bakmi Mbah Nen” juga di pasang dibawah lampu ambulan. Dan akibatnya, setiap malam…huaaahh…kedai Mbah  Nen selalu ramai dengan pasien2..ehh..yang pada kelaparan.  Apalagi kalau ada pertandingan bola di TV. Dijamin, sampai jam 2 malam pun pasien sakit lapar ini akan terus opname di kedainya. Pendek kata, meriah.

Bukan tanpa alasan kalau bakmi Mbah Nen menuai pasien lebih banyak. Aroma bawang putih yang mencolok, harum tercium dari teras rumahku. Hingga suatu hari, perut pun ngga tahan dengan godaan aroma bawang putih diwajan, aku menahbiskan diri jadi pasien baru.

Porsi yang disuguhkan tidak malu-malu. Cukup mengenyangkan untuk mereka yang punya kapasitas besar di pinggang depan. Mie berpenampang bulat, mie telur kuning, campur bihun dengan kuah yang royal namun cenderung bening. Tingkat kekenyalan masih lumayan lah..tidak terlalu matang.

Sayangnya, rasa kaldu mie Jowo mbah Nen tidak setinggi harapan yang aku patok berdasarkan aroma bawang yang mengepul dari wajan. Bawang yang harum mewangi itu kok Cuma menjelma menjadi rasa cemplang alias plain disajian mienya. Whaa….nilai yang tadi aku patok di angka 9 dari skala 1-10 langsung meluncur ke angka 6.5 wae.  Duuhhh..maap mbah..tapi aku tidak puwas.

Sebaliknya, kesahajaan Bu Kusni rupanya menyimpan kejujuran rasa dan aroma yang lebih baik. Baunya sedap, rasanya ya parallel dengan aromanya. Sedap! Seperti Mbah Nen, Bu Kusni juga memakai mie basah. Tidak bau ‘kapur’ sama sekali, meski aku lebih suka pesan “kuningnya dikit mawon” which means that aku pilih bihun.

Bu Kusni cenderung memasak mie-nya lebih matang, dan selalu menanyakanku “pedes?” sebelum menyendokkan irisan rawit hijau kedalam mie dalam wajan. Satu lagi yang aku suka. Bu Kusni selalu memasukkan irisan daun bawang terakhir, jadi masih terasa krenyes2.  Eh ya, Bu Kusni hanya memakai telur bebek. Dan ketika telur di kacau bersama bumbu dengan sedikit minyak dalam wajan di atas tungku arang…whoaaa…sedapnyaa..

Meski aku selalu pesan mie rebus, ada kalanya pengin mie goring juga. Mie goring Bu Kusni cenderung tidak manis. Kecap dan saus tomat hanya sedikit saja di kucurkan. Karenanya, banyak pelanggan yang minta agar kecap di tambahkan.

Nasi goring, gimana? Nah, yang urusan nas-gor, menurutku, masakan Bu Kusni ngga konsisten. Kadang enaaakkk banget dengan rasa manis asin gurih ditambah aroma smokey yang cantik. Tapi sering pula, nas-gornya plain dan tawar. Hmmm..

So, enakan mana? Agak ngga adil penilainku terhadap Mbah Nen. Wong baru coba sekali. Tapi aku ogah coba lagi karena beberapa orang teman juga voting bu Kusni.

Yuk mari, godog atau goring?

The Ultrafamous Bakmi Kadin – Yogya

Tagline yang berlaku ketika musim ujian adalah : Posisi Menentukan Prestasi. Rupanya ini juga sounds applicable untuk Bakmi Kadin!

Sudah banyak orang bercerita tentang Bakmi Kadin. Tentu saja nama kedai ini masuk glossary of best bakmi Jowo in the world; pertama karena lokasinya yang sangat mudah di temukan, dan kedua, karena rasanya yang memang. Terakhir, karena ada hiburan music dengan lagu-lagu yang asik. Kelompok music ini menghibur pengunjung tiap hari mulai jam 7nan malam. Alat musiknya kumplit lohhh…termasuk biola dan bas betot! Hebat. Sebelas dua belas deh dengan Magenta Orkestra atau New York Philharmonic di sonoh. Hihihi…Pengunjung juga bisa minta lagu favorit dinyanyikan. Seingatku, mbak Singer-nya, meski tidak muda, memiliki kualitas suara yang bagus sekali. Maem bakmi Jowo dengan iringan lagu latin..alamaaakkk….seronoknyaaa..

Nah, yang belum pernah kesana, pasti tuing-tuing pengin tahu dimanakah gerangan Bakmi Kadin berada? OK. Gampang. Ikutin aja jalan lurus Malioboro hingga ujung, where BNI and the main post office locate. Belok kiri melewati Taman Pintar, dan arahkan kendaraan lurus melewati traffic light, hingga ketemu supermarket Lion Superindo. Di traffic light dekat Lion Superindo itu, beloklah ke kanan. Setelah melewati gedung Kadin, anda akan temukan plang Bakmi Kadin di kanan jalan. Hati-hati, karena di sekitaran Bakmi Kadin, ada beberapa warung bakmi lain  yang juga mencoba kais rejeki.

Bakmi Kadin menggunakan mie basah berbentuk lidi.Bulat. Bukan yang gepeng atau keriting. Bihun juga ada. Eh, kenapa ya defaultnya selalu mie kuning campur bihun? Sayuran yang digunakan standar ajah, kol, daun bawang dan seledri. Juga acar mentimun. Eh, tapi ada campuranirisan gorengan di bakmi. Gorengan ini dibuat dari terigu yang didadar dengan telur. Aku menyebutnya ‘kekian Jowo’, dan dirumah ibu sering bikin capcai Jowo dengan adonan terigu goreng ini.

Porsi bakmi Kadin tidak terlalu besar, namun cukup mengenyangkan untuk ibu-ibu. Lain halnya dengan Bapak-bapak. Mereka biasanya perlu nambah setengah atau satu porsi lagi.  Hebat ya kapasitas bapak-bapak ni. PAdahal mereka biasanya juga ngga melewatkan Wedang Bajigur yang menjadi signature drink-nya Bakmi Kadin. Mantab!

Ada harga, ada rasa. Harga bakmi Kadin terhitung nanjak di Jogja, di kisaran 20 ribuan untuk bakmi standard. Kalo nambah ekstra ayam – sayap, brutu, kepala, uritan – tentu angka penukarnya semakin nanjak. Hiks. Mahil.

Tak apalah, sesekali.  Lagian, worth it kok.

Bakmi gepeng, Padokan – Madukismo

Sesi terakhir ujian Senin sore ini bener bikin aku lemess. Monday blues? Maybe. Yang jelas, perut terasa kembung, leher kiri kaku, badan terasa capek an nafas pendek. Dua kata kesimpulan: Masuk Angin.

Hmm..butuh sesuatu yang hangat tapi bukan bakso. Jadi, apa dong?

Waktunya menjajal bakmi Padokan, beberapa puluh meter sebelum pabrik gula Madukismo bila kita ambil jalan masuk lewat perempatan Madukismo – Ringroad selatan. Eitsss….hampir saja terlewat…karena warung bakmi Jowo ini terletak di tikungan sebelah kanan.

Jam 5 sore lebih beberapa menit.

“Godog, satu, bungkus. Biasa”. Mantra standar terucap.

Si Bapak penjual mengangkat wajan cekung, mendudukkannya di atas tungku, tuang sedikit minyak, dan mulai menumis racikan bumbu bawang putih.

Weh, kok ada sawi ijo ya, pikirku agak ciut. Mie Jowo, setahuku, hanya mengandalkan kol, daun bawang dan sledri sebagai sayurannya. Telur yang dimasak pun telur ayam negeri. Waduh, piye to iki. Mana telur bebeknyaa…?

Meski hati mulai bersiap untk kecewa, gunungan mie kuning dan bihun yang tampak padat memenuhi kotak kaca di gerobaknya lumayan menjanjikan. Kalo mie nya menggunung gitu, berarti laris to? Kalo lris, berarti enk to? Amiiiinnnnn…jeritku dalam hati. Halah. Lebay.

Mie siap di masukkan ke kantong plastik. Waduh, kok agak coklat ya? Berarti tadi kecap manis di masukkan tanpa konsultasi dulu; something that I dislike.

Selembar sepuluhribuan dipatok  sebagai penebus mie rebus. Hm..harga wajar.

Sampai rumah, baru ketahuan kalo porsi mienya ..whoaaa…besar sekaliiii. Butuh  dua mangkok makan. Mestinya butuh dua orang juga untuk menghabiskannya.

Porsi gendut gini, isinya apa sih? Ini dia. Mie kuning gepeng dan rada keriting bercampur dengan bihun dan telur ayam. Trus, ada sayuran kol dan sawi hijau. Eh, ada sedikit potongan tomat, daun bawang serta seledri sebagai taburan.  Potongan daging ayam jawa sporadis menyembul sana sini. Ngga banyak sih, tapi lumayan sebagai hiburan.

Waktnya tasting. Kucicipi sesendok kuahnya. Hmm..enak. Berikutnya, sesendok mie yang sudah aku campur dengan acar ketimun. Ck..ck…enak. Kesimpulannya, enak. Hmm…sip sip.  Mienya pulen – bukan lembek lho ya, sawinya juga tidak langu. Bagus bagus. Nilai boleh 8.5 lah, dari skala 10.

Mau coba? Enak! Ngga bohong!

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.